Perjalanan MengASIhi - Mastitis Oh Mastitis!

Seminggu lagi Hadziq akan berumur 5 bulan, ini artinya sudah 5 bulan dia bersamaku dan 5 bulan pula saya berjuang menyusuinya. Ya, berjuang. Karena untuk diri saya sendiri menyusui bukanlah hal mudah, melainkan hal yang sangat menantang dan penuh dengan drama 😀


Drama Menyusui

Semenjak melahirkan, saya termasuk orang yang tidak mulus-mulus saja dalam menyusui anak saya ini. Perih dan lecet, adalah hal pertama yang saya rasakan karena saat itu saya memiliki flat nipples. Cukup telat bagi saya untuk memijat area tersebut, seharusnya saya melakukannya beberapa minggu sebelum melahirkan agar kulitnya elastis. Belum lagi saya susah dapat nipple cream yang disarankan bidan (Mothercare atau Pigeon). Cari di apotek dan toko perlengkapan bayi dekat rumah ternyata merk Pigeon ini enggak ada...yaaa apa daya sudah terlanjur terlewat, maka saya harus berusaha dengan terus menyusui secara langsung dan mencoba menggunakan spet. Tetapi yang saya dapatkan malah makin perih dan makin lecet. Awalnya sih enggak dirasa-rasa, karena keinginan saya terlalu kuat untuk bonding through breastfeeding. Lama-lama jadi ganggu juga dan setelah berkonsultasi dengan dokter, saya diberikan Kenalog karena aman kalau tertelan (sebenarnya ini obat sariawan sih).

Agak menyesal juga pakai Kenalog, karena enggak mempan buat saya. Mungkin saat itu saya enggak bisa pakainya dan gak tunggu kering. Jadilah kulitnya kecabut dikit dan perih luar biasa. Hufttt.... hampir nyerah untuk menyusui tapi saya tahan-tahan. Kena kain baju aja pengen nangis, apalagi pas menyusui langsung. Saya sampai sesegukan di kamar 😓. Untungnya suami selalu menghibur dan dukung buat tetap menyusui. Jadi saya coba cara-cara lain. Berbagai cara yang orang-orang sarankan:

  • oles pakai ASI langsung sebelum dan sesudah menyusui, diamkan sampai kering baru pakai bra ✔
  • kompres pakai handuk hangat dan dingin ✔
  • kompres pakai daun kubis ✔
  • kompres pakai daun sirih ✔
  • tetap menyusui karena nanti sembuh sendiri ✔
Dari cara-cara itu enggak ada yang berhasil buat saya ❌❌, semuanya saya lakukan tapi yang ada malah tambah parah. Berdarah, bernanah, bengkak, kulit merah, demam... ah ampun deh. Sampai demam dua kali gara-gara ini. Setelah tanya dan googling sana-sini semakin yakin mastitis dan khawatir tambah parah. Nangis sejadi-jadinya... saat itu cuma bisa peluk bayi dan peluk suami. Sementara menyusui dan pompa tetap jalan terus. Untungnya (masih ada untungnya), yang tambah parah cuma satu PD. Yang satu lagi masih normal. Jadi yang kanan disusuin langsung dan yang kiri pompa.



Proses Penyembuhan

Setelah sekitar satu mingguan saya menderita, akhirnya saya ke dokter juga. Dokter anak saya menyarankan saya langsung ke internis saja. Buset... cuma dilihat saja dikasih antibiotiknya banyak banget dan mahal 😒 bener-bener gak sempet dicek lama. Saya jadinya ya enggak puas.. pengen cari opini lain dulu.

Sebelum ditebus saya keingetan lagi nipple cream Mothercare dan Pigeon itu. Masih penasaran bisa ngefek ngobatin luka PD saya atau enggak. Habis itu penasaran pengen ketemu konselor ASI dulu. Tapi konselor yang saya tahu lokasinya jauh-jauh dan sibuk, waktu prakteknya pun pas saya lagi enggak bisa datang. Ehhh saya nemu di website katanya di Borromeus ada klinik laktasi. Langsung lah saya ke sana sebelum menebus obat dari dokter internis itu.

Pas sampai Borromeus saya tidak menemukan dokter yang menangani laktasinya, katanya cuti. Alih-alih saya disuruh breastcare saja. Yaudah lah ya udah jauh-jauh ke Dago pula saya jabanin. Alhamdulillah luar biasa ya rasanya breastcare, bukan ala-ala kayak yang udah saya pelajari untuk dilakukan di rumah. Ini pijatannya mantap banget dilakukan dua orang suster sampai saya jerit-jerit kesakitan dan ASI muncrat kesana-sini. Luka di nipple saya dibersihkan dan bengkaknya mulai berasa enakan. Semula PD terasa berat kayak batu lama-lama agak mendingan. Dan di akhir breastcare saya disuruh untuk menyusui langsung Hadziq. Duh... ada ketakutan dan trauma sendiri. Tapi ternyata berasa plong! Suster bilang sebenarnya enggak usah khawatir, tapi katanya kalau sudah dikasih resep antibiotik baiknya diminum saja. Hmm... jadi galau. Saya tetap cari opini lain dari teman yang dokter dan lain-lain. 

Karena penasaran saya tetap cari nipple cream  yang mengandung 100% lanolin. Ujung-ujungnya pilihan tetap jatuh pada Pigeon. Esoknya, suami tetap tebus obat antibiotik karena teman saya bilang kalau memang sudah infeksi lebih baik dimakan obatnya. Oke deh... semuanya ditebus. Tapi ternyata ada satu obat (lupa namanya) yang lebih baik tidak dimakan ibu menyusui. DUH! Telat baca.. yaudah lah ya udah ditebus, jadinya diminum dan tetap oles bagian yang luka dengan Pigeon cream yang udah dibeli selang-seling dengan salep antibiotik resep dokter.

Alhamdulillah.. beberapa hari kemudian kondisi PD saya semakin membaik. Setelah saya tahu dari teman-teman lainnya yang pernah mengalami mastitis, ternyata bisa sampai dibedah untuk diambil cairan nanahnya. Nah loh.. saya baru sadar, jangan-jangan nanahnya kemakan anak saya. Soalnya pas pumping ada semacam ASI yang menggumpal tapi tetap diminum Hadziq. Yasudah deh ya.. sudah terlewat. Mudah-mudahan enggak apa-apa. 

Total masa sakit sampai sembuh mungkin ada sekitar 2 mingguan lebih. Itu menjadi 2 minggu terlama dan yang paling bikin bete dalam hidup saya deh kayaknya. Tapi alhamdulillah akhirnya sembuh juga, dan saya selalu berada dalam dukungan keluarga, terutama suami yang menyemangati saya untuk sembuh walaupun dompetnya dia bocor karena pengobatan saya😝 Ada hikmahnya juga sih, semula produksi ASI cuma banyak di PD kiri aja, tapi karena PD kiri sakit jadi saya sering menyusui dengan PD kanan. Alhasil sekarang dua-duanya seimbang dan sama-sama banyak menghasilkan ASI alhamdulillah.

Tiap-tiap inget mastitis itu saya jadi merinding terus. Anehnya padahal saya sudah diwanti-wanti teman supaya sebisa mungkin menghindari penyebab mastitis, eh ternyata tetap saja kena. Dasar sudah seharusnya kali ya. 

Karena trauma mastitis saya jadi lebih hati-hati dan jaga-jaga. Selalu menjaga kebersihan PD, dan langsung usahakan untuk mengosongkan PD kalau dirasa sudah penuh, jangan menunggu mengeras takutnya nanti tersumbat, duh!

Dan ingat... jaga diri agar tetap termotivasi untuk sembuh. Ingat, ada anak kita yang menunggu kita untuk sembuh dan menyusuinya. Jangan panik kayak saya, jangan stress, nanti ujung-ujungnya nyesel.. hehehe. 

Semangat ya ibu-ibu! Apalagi ibu-ibu baru kayak saya, harus banyak belajar dan jangan malu bertanya. Kalau ada yang mengalami hal yang sama kayak saya, tenang... kamu enggak sendirian. Insyaallah bisa sembuh asal kita yakin dan kita mau usaha 😗

P.S. 
- Harga antibiotik untuk mastitis ratusan ribu, kalau dikasih banyak ya lumayan juga bikin kantong kering.
- Langsung obati sebelum menjadi tambah parah apalagi kalau sampai harus dioperasi.
- Harga cream dengan lanolan murni cukup mahal juga, tube kecil dari Medela harganya sekitar Rp.60.000-70.000. Sedangkan Mothercare atau Pigeon dengan ukuran lebih besar harganya sekitar Rp.170.000-180.000.
- Lebih baik beli yang ukuran kecil saja, sayang kalau beli yang Pigeon kalau sudah enggak terpakai (pengalaman pribadi*) 

Melahirkan Dia - Belahan Jantung Kami

Akhirnya kita bertemu, Nak 👶

Minggu, 26 Februari 2017

Di pagi yang cerah itu, dengan semangat penuh saya ikut prenatal yoga di Bumi Ambu. Tentunya dengan harapan supaya badan bisa lebih fit dan mungkin bisa mempercepat kepala bayi turun ke panggul. Kebetulan di hari ini yoga ramean di halaman Bumi Ambu, pasti lebih seru. Kirain masih bisa lincah yoga, tapi ternyata stamina saya sudah mulai menurun. Awal yoga di 32 minggu masih kuat dan tahan gerakan ini itu. Eh... di usia kandungan 38 minggu ini ternyata saya udah mulai agak kewalahan. Perut yang lebih membesar dan kaki membengkak bikin saya gampang kesemutan. Dari sebelum sampai sesudah yoga, saya coba terus berpikir positif. Semoga bisa cepet ketemu bayi yang ada di kandungan dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun. 

Foto dari Teh Okke dikirim lewat Teh Hani 😚

Yoga for lyfe😎

Sesampainya di rumah, saya dikagetkan dengan adanya flek coklat kayak mau haid. Langsung panggil suami dan tanya, "Aa, sini. Ini ada flek. Aku mau lahiran gitu ya?" Dengan polosnya Aa jawab gak tau (yaiyalah 😁). Langsung tanya mamah juga yang ada mamah yang panik. Masih mencoba santai, saya sih seneng banget. Soalnya dari awal trimester kedua selalu ngajak ngobrol bayi buat lahiran di minggu 38 dan pas papapnya ada di Bandung. Semoga aja bisa terwujud. Tapi saya tetep serahkan lagi semuanya sama Allah dan bayi kapan dia mau ketemu kami. 

Kami langsung persiapan tas bayi dan isinya. Pokoknya semua yang ada di birthplan kami siapin. (38 minggu baru masuk-masukin perlengkapan ke tas bayi???? IYA 😅 )

Karena belum ada kontraksi (atau sebenernya ada tapi gak dirasa), jadinya ya jalani hari seperti biasa.

Senin, 27 Februari 2017

Karena ngotot pengen lahiran normal (ada trauma operasi) dan pengen cepet kepala bayi turun ke bawah, pagi-pagi lanjut kerjain tugas dari dokter dan bidan buat jalan cepat 3 jam. Tapi tetep aja balik lagi kayak rutinitas biasa cuma mampu jalan cepat satu jam dengan kecepatan 4 km/jam di komplek rumah. Kontraksi mulai kerasa, tapi ah gak mau ge-er dulu. Takutnya ya kontraksi palsu. Mulai ada dua jam sekali dan sejam sekali. Tapi kadang-kadang ilang. Makin yakin ini cuma braxton hicks jadi ya masih cuek aja. Kata bidan dan teteh, kalau udah sepuluh menit sekali baru mulai siaga. Oke deh.. masih lanjut berkegiatan biasa dan malamnya pun masih bisa masak + makan banyak.

Tapi eh tapi... pas mau tidur mulai kerasa sesuatu yang aneh. Perut sakit, pinggang sakit... makin sering intervalnya. Langsung whatsapp bidan Okke sama Hani di Bumi Ambu tapi belum ada jawaban. Agak was-was tapi masih coba tenang dan tidur seperti biasa. Ternyata gak bisa.. Tidur gak nyenyak karena sakit.

Selasa, 28 Februari 2017

Lewat tengah malam saya kebangun, gak bisa tidur lagi. Langsung cek whatsapp dan ternyata ada balasan dari Teh Okke. Saya disarankan buat cek ke bidan, bisa di bidan terdekat atau di Bumi Ambu. Karena saya pede banget mau lahiran hari ini, jadi sekalian aja ke Bumi Ambu berdua sama Aa sambil bawa perlengkapan ibu dan bayi.

Kira-kira jam 2.30 dini hari saya dicek sama teteh-teteh bidan di sana. Tekanan darah bagus, detak jantung bayi bagus, dan cek bukaan. Dicek pembukaan itu rasanya.... ANEH. Pengen kejet-kejet karena sakit tapi ditahan aja. Teh Okke juga ngeceknya pelan-pelan dan minta maaf dulu 😄. Pas tahu pembukaannya ternyata udah pembukaan 2... antara seneng dan sedih sih. Seneng karena udah ada bukaan (padahal waktu kontrol 4 hari yang lalu kata dokter masih lama lahirannya), sedih karena udah sakit sana sakit sini dan lendir mulai keluar tapi ternyata masih bukaan 2. Teteh-teteh bidan nyuruh saya tidur dulu buat istirahat meskipun susah. Alhasil mata tetep merem melek menikmati gelombang cinta dari si bayi.

Jam 8 pagi dicek bukaan lagi, alhamdulillah udah bukaan 3. Nah di sini yang paling deg-degan, Takut kontraksinya ilang dan disuruh pulang lagi kayak ibu-ibu di kamar sebelah. Eh ternyata siangnya dicek sekitar jam 1 siang udah bukaan 4. Seneng luar biasa, kata teh Okke kalau lancar mudah-mudahan bisa lahiran sebelum jam 9 malam. Mamah sama Bapa nengokin juga ke Bumi Ambu, tapi karena belum ada tanda-tanda jadinya Bapa pulang lagi. 

Nyobain keluar kamar buat jalan bentar biar gak bosen

Teteh-teteh bidan juga tetep nyuruh saya buat jalan-jalan biar gak bosen. Tapi karena kontraksinya luar biasa, alhasil saya ditemenin Aa cuma bisa jalan di deket Bumi Ambu aja. Itu juga cuma sebentar karena udah ada tanda-tanda langit gelap dan mau hujan. Habis itu ya diem di kamar aja sambil nonton tv dan live instagram pertama kalinya. Lumayan menghibur karena banyak yang nonton, tapi mendadak udahan karena kontraksi dahsyat datang dan kebetulan mau dicek detak jantung dan tensi. 

Jam 8 malam mulai cek bukaan lagi, dengan percaya diri yang tinggi yakin banget ini bukaan udah naik banyak karena kontraksi udah sering banget kayak gak ada jeda. Eh ternyata masih bukaan 4 ke 5. Kecewa berat.. pengen nangis rasanya. Tapi Aa tetep semangatin biar saya gak nyerah dan terus berpikir positif, "Sebentar lagi ketemu sama si kakak..". Cuma itu yang bisa mengalihkan rasa sakit yang saya rasain. Bayangkan aja, udah hampir 24 jam nahan kontraksi sampe lemes gak bisa tidur. Boro-boro mau tidur, makan aja ogah.. padahal udah persiapan makanan banyak. Tapi mendadak gak menarik. Mamah dan Bapa bulak-balik datang nengokin juga akhirnya dicuekin, karena pada saat itu cuma pengen ditemani Aa aja 😕

Lagi kontraksi sih ini 😜

Yang selalu nemenin dari awal kontraksi 💕

Mulai dari tiduran, duduk di kasur, duduk di kursi, duduk di gymball, bolak-balik kamar mandi, tapi gak ada yang lebih mendingan buat nahan kontraksi selain berdiri sambil dipeluk suami. Somehow bikin tenang dan lebih rileks walaupun otot perut ke bawah mengeras semua. Padahal bawa kamera dua, pengennya ngerekam semua persiapan lahiran. Tapi mana bisa. Aa sukses disabotase buat dipegang erat-erat dan siaga total. Sampai kasian keliatan banget lemesnya karena ikut-ikutan kurang tidur 😢. Saya sempet juga dipijit oksitosin sama Kak Dani.. lumayan bikin rileks walaupun masih kerasa banget sakitnya. Saya udah hampir nyerah, tapi kalau inget perjuangan buat bisa sampai di titik ini tuh bikin saya punya harapan lagi. Langsung deh nemuin mamah yang rela nungguin di luar kamar dan minta maaf diiringi air mata. Yang kebayang saat itu cuma satu, rasa sakit ini mungkin Allah kasih biar saya sadar dosa saya sama mamah banyak banget padahal mamah dulu perjuangan juga buat melahirkan saya 😭 Yang saya minta saat itu ke mamah supaya mamah maafin dan doain saya biar bisa lahiran dengan lancar.

Rabu, 1 Maret 2017

Jam 2 dini hari saya dicek lagi ternyata masih bukaan 5 ke 6. Ya Tuhan.. ternyata lama banget naik bukaannya. Habis beres observasi, Teh Okke ngajak saya sama Aa buat diskusi. Ternyata dari hasil observasi, grafik pembukaan saya udah melewati batas lahiran yang dianjurkan di Bumi Ambu. Saat itu saya dan Aa cuma bisa nurut saran dari Teh Okke buat ke rumah sakit dan lanjut proses lahiran di sana. Sedih sih.. saya pikir bisa jodoh lahiran di Bumi Ambu, udah seneng banget bisa ketemu bidan-bidan cantik yang baik banget. Tapi karena kontraksi terus menerus dan bukaannya lambat, mau gimana lagi.. takut ada apa-apa, harus rela pisah sama Teh Okke, Teh Hani, Kak Dani dan Teh Rista setelah menginap 24 jam di Bumi Ambu. Akhirnya Plan B pun dijalankan, saya berangkat menuju RS Al Islam. Untungnya Bapa mertua nungguin juga, jadi masih bisa nemenin saya bareng Aa, mamah, dan Kak Dani.

Sesampainya di RS Al Islam jam 4.30, saya dibawa ke UGD. Kak Dani dan Aa langsung urus pendaftaran. Cek sama bidan udah pembukaan 6. Mules semakin luar biasa pemirsa... apalagi cek bukaan sama bidan di rumah sakit berasa banget sakitnya, kayak gak ada pelan-pelannya gitu 😥. Mamah dan Aa tetep nemenin di rumah sakit, Bapa mertua pamit karena ada acara di Jakarta dan Kak Dani pamit ke Bumi Ambu lagi. 

Mulai cemas, pasrah.

Dari ruang UGD saya dipindah ke ruang bersalin dan mulai dipasang infus. Kirain mau lahiran bentar lagi tapi ternyata masih harus nunggu. Saya bener-bener gak bisa bedain mana sakit perut kontraksi mau lahiran dan mau BAB, rasanya campur aduk! Mana belum BAB dari kemarin, jadi berasa ngeganjel banget. Mau dikeluarin juga jadi takut tiba-tiba ngeden dan melahirkan di toilet. Udah bulak-balik kamar mandi tapi gak ada progres apa-apa. Perasaan makin gak karuan, kapan saya bakalan melahirkan? Kirain bakalan kayak di film-film. Mules-pecah ketuban-keluar darah-selesai. Ternyata gak seperti itu. Tiap orang juga beda-beda prosesnya. Ada yang pembukaannya cepet, ada yang kontraksinya lama, ada yang rembes atau pecah ketuban dulu dan ada yang enggak, dan lain-lain. Tapi yang pasti perasaan mulai cemas dan pasrah itu masih ditutupi semangat dan dukungan dari suami yang selalu ada di sisi. "Kamu kuat, kamu pasti bisa. Bentar lagi sayang..." itu yang tetep bikin sadar. 

Jam 6 pagi saya dicek lagi udah pembukaan 7. Habis itu dipasang CTG buat cek grafik detak jantung janin dan gerakan janinnya. Beres dipasang CTG saya sama Aa diem di ruang bersalin berduaan sambil ngerasain kontraksi yang gak selesai-selesai. Dikasih sarapan pun gak nafsu dan ujung-ujungnya saya minta Aa yang abisin. Saya cuma bisa terus motivasi diri saya sendiri kalau bentar lagi bayi yang ditunggu-tunggu bakalan hadir.

Karena biasanya saya cek sama dokter Delle, jadi pengennya saya lahiran sama beliau. Dokter Delle sempet datang dan cek kondisi saya. Akhirnya setelah CTG dan dicek dokter, saya mulai dikasih induksi 1 kali dan pelunak rahim 2 kali di selang infus. Kesan saya saat itu... Oh induksi disuntik gini doang. Kirain dianeh-anehin.. eh ternyata saudara-saudara... efek kontraksi dari induksi itu luar biasa maha dahsyat! Gak pake induksi aja udah pengen nangis tiap kontraksi, apalagi ini.  

Jam 9 udah mulai pembukaan 8 dan jam 10 udah mulai pembukaan 9. Nah, ini dia yang nyebelin... bagian dicek pembukaannya dirojok-rojok banget 😅. Di pembukaan 8 ternyata keliatan ketubannya masih bagus, bening dan banyak jadi dokter bilang biarin ketubannya pecah alami aja. Tapi di pembukaan 9, ketubannya kayaknya kepecahin sama bidan pas lagi cek. Rasanya kayak pipis mendadak dan luber kemana-mana. Suami sempet liat ketubannya, kayak balon katanya. Tapi untung gak kenapa-kenapa.

Akhirnya Dia Datang

Rasa sakit yang sebelum-sebelumnya itu ternyata gak ada apa-apanya dibandingkan yang terakhir ini. Saya udah mulai berisik dan pengen ngeden. Dua kali pengen ngeden masih bisa ditahan dengan tarikan nafas pendek-pendek kayak kepedesan. Aa sebagai suami yang kala itu menemani jadi ikut-ikutan juga atur nafas. Nah pas pengen ngeden yang ketiga kalinya datang... udah bener-bener gak bisa ditahan. Udah gak peduli lagi mau lahiran sama bidan atau dokter. Dokter masih praktek di ruangannya, sementara saya ditemenin suami dan beberapa bidan. Bidan udah ngasih tau kalau mau ngeden, dicoba ngeden aja. Awalnya saya masih ragu, tapi sedetik kemudian gak pake pikir panjang saya langsung coba ngeden. Mendadak latihan nafas buat ngeden pas senam hamil, pilates atau yoga lupa semua. Diingetin lagi sama bidan dan dibantu dukungan juga dari Aa. Kata Aa, pas kepala udah keliatan, akhirnya dokter datang dan masih sempet ngajak berdoa. Dengan tarikan nafas dan ngeden luar biasa.. saya cuma fokus sama perasaan pengen BAB yang sungguh keras dan paling menyakitkan selama saya hidup. Tapi akhirnya semua itu terbayar ketika dokter dan bidan semua bilang hamdallah...




Alhamdulillah, di hari itu pukul 11.12 siang, saya ditemani Aa berjuang sekuat tenaga untuk bertemu dia. Bayi laki-laki lucu yang terlahir dengan kondisi badan yang sehat tidak kurang suatu apapun, dengan berat badan 3,3 kg dan panjang 48 cm.

Bersama dr. Delle, Sp.OG. Terima kasih bu dok 😊
Tangisannya langsung pecah dan saat itu tidak ada perasaan yang lebih indah dari melihat, mendengar dan mendekap langsung buah hati yang dijaga selama 9 bulan di kandungan. Saat dia ada di dalam dekapan, mendadak saya langsung lupa rasanya kontraksi dan rasa saat dokter menjahit saya. Perjuangan bersamanya membuka lembaran baru lagi untuk diisi bersama-sama dengan kebahagiaan. Saya dan Aa masih harus banyak belajar untuk merawat, menjaga, dan mendidik titipan ini. 

Ini baru awal dari proses panjang yang akan kami hadapi. Semua orang memiliki proses dan carayang berbeda-beda untuk menjalaninya.  

Semoga segala doa dan kebaikan bisa terkabul untuknya...
Semoga dunia dan isinya baik padanya...
Semoga kami bisa menjadi orangtua terbaik bagi dirinya...

Kiss,
P



Bakso Penawar Rindu

Setelah badan agak tumbang karena semalam adrenalin diobok-obok berbagai permainan di Royal Geelong Show, akhirnya saya mencoba kembali ke kehidupan yang wajar. Eh, meskipun wajar tapi tetap spesial tentunya. Melanjutkan niatan saya buat latihan menari seperti minggu yang lalu, akhirnya hari ini saya juga latihan lagi :D dengan semangat 45, saya meluncur dari Leopold menuju Highton!

Seperti minggu kemarin, saya berangkat dari rumah sampai pusat kota. Nah, dari situ saya janjian ketemu dengan Kak Neza lagi buat berangkat bareng sampai Highton. Meskipun cuaca panas dan angin kuat menerpa, akhirnya sampai juga kita di sanggar *makasih Kak Neza*.

Latihan hari ini cukup menguras tenaga karena selain latihan jaipong samba, saya juga belajar tarian lain yang memerlukan ekspresi muka yang total dan tenaga ekstra xD di dalam tariannya ada unsur Bali dan Boliwood, jadinya Baliwood. Gara-gara latihan tarian ini eh jati diri saya keluar, soalnya tariannya enerjik dan lucu. Meskipun tenaga terkuras, tapi ternyata enggak terkuras-terkuras banget kok, soalnya masih ada sisa tenaga buat makan bakso. Beres makan bakso ternyata tenaga saya pulih kembali xD

Bakso campur dari Mbak Rini
Gimana tenaga saya enggak pulih.. rencana makan bakso yang idam-idamkan sejak lama akhirnya terwujud juga hari ini. Apalagi ada sambel baksonya plus kecap manis.. nyammm banget pokoknya! Berhasil sedikit menambal rindu pada tanah air :') padahal saya udah terima kalau saya baru bisa makan bakso pas nanti ke Melbourne. Eh, ternyata rejeki enggak kemana dan datang lebih cepat. Makasih banyak Mbak Rini!

Karena baksonya homemade, jadi campuran di mangkok bisa kita pilih sendiri. Bakso kecil, mie, kuah, caisim alias sosin, tauge, tahu, sedikit brokoli dan potongan ayam jadi pelengkap. Duh, bener-bener jadi penawar rindu!

Selesai makan bakso akhirnya tiba juga waktu SMP (Sudah Makan, Pulang). Karena bis terakhir saya di hari ini udah lewat, jadi Mbak Santi menawarkan untuk antar saya sampai rumah. Padahal rumah Mbak Santi di dekat pusat kota, tapi harus muter dulu ke Leopold :') maaf merepotkan ya Mbak. Makasih banyak :)

Meskipun sederhana, tapi alhamdulillah hari ini bisa dilalui dengan membahagiakan. Sayang saya baru bertemu dengan sanggar Widya Luvtari sekarang-sekarang :( coba aja kalau dari dulu awal datang ke Aussie. Tapi enggak apa-apa, udah takdirnya. Semoga bisa jadi pengalaman yang berkesan sebagai oleh-oleh pulang nanti :)

Kiss,
-P

20 Minutes Blogging

The timer is on.. and here it goes! My very first challenge:

20 Minutes Blogging
I challenge myself to make this 20 minutes blog post because usually I will spend hours just to edit the pictures and think what sentences that I want to type. And I didn't realize that may be the reason why I become lazy again in writing something. Is it only me or it happens to other people too? 

Last month I joined the #30HariKotakuBercerita project which I didn't continue because I had my holiday in the middle of the project. Actually it's a really good thing that we can join to some particular blog writing project (so I can be motivated to write). But yeah.... lots excuses came and I couldn't resist. I didn't bring my laptop and I couldn't do it on my phone because all pictures related to the topics were not there. Uh! I was disappointed of myself. 

By the way, right now I'm in my recess time at school and on my second week of the Term 4. In few weeks, my contract as an Indonesian Language Assistant here will be ended and I have to go back to Indonesia. I'm in dilemma whether I have to be happy or sad. I'm happy because I can meet my family and friends (and the most delicious food in world, for sure!), but I'm sad because my experience in this Roo's country has to be continued (later) in the uncertain times.  

Away from keyboard makes me have lots of story to share. I wish I can write them all as soon as possible. Last school term was ended beautifully. My spring break was great! I visited Apollo Bay in the Great Ocean Road and cool beaches in Bellarine Peninsula with my host family and girl friends. After that, the girls and I flew to Sidney for couple of days. Didn't know that Sydney trip was awesome and unforgettable! We even met some new people from Finland, Netherlands, and Italia.  We went back to Victoria and had few days of Aussie's farm experience in Pyramid Hill as our last adventure on the last break. It's all delightful and we really enjoyed it. 

Unfortunately every good thing comes to an end, so did my holiday. I have to deal with it--to be back to work. I wish the term 4 would be quickly ended.. just like lots of people said. But deep down... my heart wishes not to be that quickly.

Oh right.. 20 minutes almost up! I have to end this post with something. What about sharing five songs I like these days? Hope you like it like I do.

Sarah Jaffe - Clementine
Boy - Drive Darling
On Your Knees - Gabrielle Aplin
Sara Bareilles - Bluebird
James Morrison - One Life
If you want to do the same 20 minutes blogging challenge to yourself, feel free to do it! You don't have to think too much, just write your current thought directly.

Kiss,
-P

Menari Bersama Widya Luvtari

Kalau dulu di hari Sabtu pengennya cuma malas-malasan di kasur dan enggak mau kemana-mana, kali ini saya mulai ingin lebih produktif lagi. Kalau lagi rajin sih biasanya suka kepikiran jalan-jalan di sekitar kota Geelong atau di Melbourne. Cuma karena lagi pengen mengasah bakat (meskipun enggak tahu punya atau engga), akhirnya saya memutuskan untuk ikut latihan nari dengan sanggar Widya Luvtari di Geelong.

Hari ini saya ikut 'trial' untuk melihat gimana kira-kira suasana dan latihan menari yang dijadwalkan setiap minggunya. Dan tanpa ragu saya memutuskan untuk ikut latihan di pertemuan berikutnya---yaitu hari ini. Tujuannya sih supaya saya bisa ada kegiatan tambahan, pengalaman baru, teman-teman baru, dan bisa melenturkan badan :)) Soalnya saya bukan orang yang gemulai apalagi jago nari yang banyak lenggak-lenggoknya... bahkan seingat saya sih saya cuma bisa tari saman (itu pun saya ada di level pemula dan harus dipaksa dulu biar ingat gerakannya hehehe).
Salah satu sesi latihan di sanggar Widya Luvtari

Alhamdulillah saya bisa kenal sanggar Widya Luvtari gara-gara Mas Bagas dari Saman Melbourne tiba-tiba ngajak saya ke acara ulang tahun sanggar ini. Saya masih ingat waktu itu kalau enggak salah hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2015. Selain kenalan sama Widya Luvtari tentunya saya juga bisa ketemu teman-teman dari Saman Melbourne dan foto-foto cantik di sekitar Waterfront. Ternyata ada untungnya juga saya tinggal di Geelong, jadi kalau ada teman yang mau ke sini mudah-mudahan ingat saya *pede amat*. Habisnya… berbulan-bulan ini saya sedih sendiri. Pengen ikut latihan bareng Saman Melbourne apa daya tempat jauhan dan waktu yang enggak pas jadi penghalang. Jadinya cuma pernah ikut latihan sedikit itu pun masih amburadul . Tapi makasih Mas Bagas, saya bisa jadi kenal banyak orang gara-gara Mas Bagas xD!

Balik lagi ke latihan nari, hari Kamis kemarin saya dapat sms ajakan dari Kak Neza. Biar lebih gampang dan karena saya juga enggak tahu lokasi, akhirnya Kak Neza dengan baik hatinya ajak saya naik scooter dia sampai lokasi latihan. Hah? Scooter? Alias sepeda motor? Di Aussie?
Dibonceng Kak Neza :D

Jarang-jarag naik motor di sini :))
Saya kaget tapi seneng, soalnya udah hampir 9 bulan saya enggak naik motor  :)) padahal dulu sih bisa tiap hari naik motor pas lagi di Bandung. Dan akhirnya detik-detik naik motor pun tiba. Cihuy abis!
Di depan sanggar 

Mbak Neza dan Red Devil 

Sampai di sanggar, saya ketemu Mbak Rini dan juga langsung kenalan sama teman-teman baru lainnya dari Widya Luvtari. Mbak Rini langsung ajarin tarian yang benar-benar baru buat saya.. sampai saya enggak ingat apa nama tariannya :D kalau enggak salah sih ada unsur jaipongannya. Mudah-mudahan saya bisa ingat terus dan enggak menyerah. Untung Mbak Rini mengajar dengan sabar. 

Selain untuk dewasa, anak kecil juga bisa ikut latihan nari di sini. Sanggar ini juga enggak cuma buat orang Indonesia aja.. tapi siapapun boleh ikutan. Jadi makin seru latihan narinya, soalnya bisa sekalian berbagi cerita multikultural :) Duh, jadi enggak sabar buat cepet bisa nari :D

Kiss,
-P

Menjadi Pengajar Bahasa di Negeri Orang


Salah satu sudut di kelas bahasa Indonesia.

"Kalau bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa internasional bagaimana ya?"

Itulah yang ada di pikiran saya saat pertama kali menekuni pelajaran bahasa Inggris dengan serius. Sejak dahulu saya sangat termotivasi belajar bahasa Inggris karena bahasa ini adalah bahasa internasional dan saya pun ingin bisa mempraktekannya untuk berkeliling dunia.  Tetapi saya berpikir, bagaimana jika  nanti keadaan bisa mengubah status bahasa kita sendiri menjadi bahasa internasional? Wah.. saya yang bukan siapa-siapa ini langsung semangat membayangkan bahasa Indonesia digunakan di seluruh dunia. Tetapi muncul pertanyaan lainnya, apakah mungkin?

Kemungkinan itu mungkin sangat kecil sekali, tetapi kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya. Salah satu cara yang muncul di pikiran saya yaitu dengan menyebarkan pengajaran bahasa Indonesia kepada warga negara lain baik itu di negeri sendiri atau pun di negara-negara lain. Walaupun terasa sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Untuk dapat melestarikan dan menjungjung tinggi bahasa kita, kita juga harus mau belajar bahasa negara lain. Mengutip slogan Duta Bahasa: bahasa Indonesia itu wajib, bahasa daerah itu pasti dan bahasa asing itu perlu. Jadi, tidak ada alasan untuk kita menolak belajar bahasa.

Dan sekarang... di sini lah saya, terpaut jarak sekian ribu kilometer untuk mencoba berkontribusi sedikit dalam memperkenalkan dan membantu pengajaran bahasa Indonesia di negeri kangguru. Sebagai lulusan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saya disiapkan untuk menjadi guru bahasa Inggris di Indonesia. Tetapi peruntungan berkata lain. Alhamdulillah saya diberi amanat menjadi guru bantu bahasa Indonesia di sini lewat kesempatan yang diberikan oleh pihak kampus :D

Ayam Penyet Ria: Cita Rasa Indonesia di Melbourne

Ayam Penyet Ria
"Gimana, kangen sama Indonesia enggak?"

Sering banget saya dapat pertanyaan kayak gitu. Dan jawaban yang selalu saya berikan adalah: "Ya kangen lah.. Apalagi makanannya!". Sebagai tukang makan dan pecinta kuliner tanah air, berat rasanya saat harus berjauhan dengan beragam bumbu dan rasa khas Indonesia. Apalagi makanan yang pedas-pedas... Uhhh paling susah deh saya nahannya!

Dulu saya sampai harus bawa bon cabe sendiri dari Indonesia karena saya takut gak bisa makan kalau tanpa sentuhan pedas. Eh.. Ternyata di Melbourne juga ada bon cabe di toko-toko Asia xD. Seneng banget deh rasanya bisa tetap menikmati rasa pedas di lidah.. Ini artinya perut bakalan tetap aman :D.

Tapi bagaimana dengan menu makanan lainnya di sini? Saya bisa sih sedikit-sedikit masak... Cuma kurang afdol gitu rasanya. Agak lucu juga sebenarnya, dulu saat di Indonesia saya lebih suka kuliner khas luar negeri. Tapi pas sudah tinggal di luar negeri saya malah pengennya menu Indonesia terus! Akhirnya saya pun mendaftar restoran-restoran Indonesia di sini dan setelah cari tahu, saya menemukan Ayam Penyet Ria yang berlokasi di Clarendon Street. Dari tampilan sambalnya sih sangat menarik, pertama kali lihat langsung jatuh cinta!



Sambalnya yang bikin ketagihan!


Dan ternyata dugaan saya terbukti, sambal di Ayam Penyet Ria enak banget! Mirip banget sama sambal di Indonesia, gurih-nikmat-dan-membawa-diri-ini-ke-angan-angan xD . Sejak saat itu, saya selalu ingin balik lagi ke tempat makan ini. Walaupun makannya sambil kepedesan, tapi tetep nagih. Gak kapok-kapok. Jangan lupa juga cocol lalapan dan tahu tempenya. Maknyus!

Meskipun ayam penyetnya enggak atau kurang dipenyet (aneh juga sih.. Jatuhnya kayak ayam goreng biasa aja pakai tambahan kriuk-kriuk), tapi tetep aja saya suka. Apalagi pas makan sambalnya dicampur kecap manis. Wuahhhhhh bikin ngiler diri sendiri kalau lagi kangen pengen makan di sini.

Tempat ini selalu ramai setiap hari, apalagi saat jam makan siang. Kebanyakan sih warga Indonesia juga yang makan di sini, tapi suka ada aja orang Asia lainnya dan juga bule yang juga mau coba makan di sini. Kalau enggak terlalu suka yang pedes-pedes bisa coba menu lainnya. Ada gado-gado, rawon, soto, dan kadang juga ada pempek palembang. Harga berkisar AUD $10-$20.

Nah buat siapapun yang ke Melbourne dan kangen masakan Indonesia, wajib banget ke Ayam Penyet Ria. Dari pusat kota, kita bisa naik trem no 12 dari depan Southern Cross ke arah Melbourne Selatan. Nanti berhenti di Clarendon Street No 248. Rumah makan ala Indonesia ini biasanya buka dari jam 12 siang sampai jam 20.30. Kalau enggak sempat makan di tempat, kita bisa take away loh. Kalau mau nambah sambalnya juga bisa, tapi harga satuannya 50 cents :D. 

Oh iya! Saya punya beberapa tips makan di rumah makan Indonesia di Melbourne:
1. Jangan pernah membandingkan harga di sini dengan di Indonesia. Kalau dibandingkan terus yakin deh enggak bakalan mau makan. Menu tradisional yang biasanya bisa dibeli dengan harga Rp.10.000 - Rp.50.000, di sini harganya bisa berkali-kali lipat karena disesuaikan dengan standar biaya hidup orang sini. Belum lagi bumbu dan bahan yang mungkin gak ada di sini, jadi wajar kalau lebih mahal.
2. Bisa pesan makanan pakai bahasa Indonesia. Biasanya banyak tempat makan Indonesia di Melbourne yang memperkerjakan orang Indonesia juga, jadi kita enggak perlu pesan pakai bahasa Inggris. Tapi harus hati-hati, jangan lupa cek dulu siapa tau mereka bukan orang Indonesia dan mereka enggak ngerti apa yang kita katakan hehehe.
3. Jangan lupa sapa kasir pas kita pesan makanan. Selain karena sudah jadi kebiasaan di sini, kita bisa coba sapa dengan ramah siapa tau dikasih diskon :D.
4. Bawa uang tunai. Ada banyak tempat makan Indonesia di Melbourne yang gak bisa pakai kartu debet (EFT Pos), jadi lebih baik ke ATM dulu dan pastikan kita bawa uang tunai.
5. Cek lokasi di peta atau aplikasi dengan baik. Kalau pertama kali cari tempat makan Indonesia di negara orang lain wajib banget cek di peta atau aplikasi transportasi publik. Jangan sampai nyasar xD.
5. Jangan ngomong yang aneh-aneh dan jangan curhat terlalu kencang saat makan. Soalnya meskipun di negara orang, tapi rata-rata yang ada di situ kan orang Indonesia juga hehe.

Pokoknya.. buat siapapun yang mau ke Melbourne, jangan khawatir sama menu makanan dari Indonesia... Banyak kok di sini yang enak-enak. Cuma harus cek dan ricek dulu siapa tau rasanya kurang pas di lidah kamu. Tapi kalau untuk Ayam Penyet Ria sih pasti juara! Aku enggak pernah kecewa meskipun sudah berkali-kali makan di sana. 

Duh, jadi lapar!

Kiss,
-P

Pasarnya Ratu Inggris: Queen Victoria Market

Kurang lengkap rasanya kalau tinggal di suatu tempat tapi belum mengenal pasar yang ada di tempat tersebut. Kalaupun hanya berkunjung saja buat liburan, pastikan kita juga coba belanja atau sekedar jalan-jalan di pasar yang paling "hits" di tempat yang kita kunjungi itu. Kenapa? Karena pasar menjadi salah satu tempat utama untuk pusat interaksi warga. Dan ternyata alasan saya ini terbukti saat saya menyempatkan jalan-jalan bersama teman-teman ke Queen Victoria Market, alias Pasar Ratu Victoria yang ada di Melbourne. 

Pasarnya Ratu Inggris: Queen Victoria Market

Pasar ini biasa juga disebut dengan Queen Vic atau Vic Market. Tetapi kalau mau ke sini jangan salah sebut, bisa-bisa nyasar. Karena ada juga pusat perbelanjaan modern bernama QV yang tidak jauh dari tempat itu. Kebetulan saya sendiri pernah mengalami, saya kira QV itu Queen Victoria Market yang sering disebut orang-orang.. eh ternyata bukan :D

Queen Victoria Market ini adalah satu-satunya pasar tertua dari abad 19 yang masih bisa bertahan di tengah kemajuan Melbourne sebagai kota metropolitan. Pasar-pasar "tua" lainnya sudah ditutup sejak lama. Oleh karena itu, Vic Market juga jadi salah satu tujuan wisata para wisatawan baik itu lokal atau pun mancanegara. Bahkan pasar ini telah didaftarkan di Victorian Heritage Register sebagai pasar yang bersejarah. Bangunan tuanya pun masih kokoh menghiasi jalan Queen Elizabeth dan Victoria. Oh iya, nama pasar ini diambil dari Ratu Inggris yang menduduki tahta dari tahun 1837-1901. Makanya jangan heran kalau nama ratu yang satu ini tersebar dimana-mana di Australia, khususnya di negara bagian Victoria.

Ada sedikit cerita menarik dari bagian Vic Market ini. Bagian yang sekarang digunakan sebagai tempat parkir sebelumnya digunakan sebagai area pemakaman. Wah.. untungnya di sini enggak percaya yang aneh-aneh ya. Jadi area pemakaman yang diubah fungsinya pun baik-baik aja. Enggak ada cerita-cerita menakutkan yang beredar apalagi kalau dipercaya bisa bikin pasar enggak laku. Toh ternyata pasar ini sampai sekarang selalu kebanjiran pengunjung dan pembeli :))

Delapan Oasis di Kota Melbourne

Siang itu, rencananya saya akan berjelajah di tengah kota dan berbelanja beberapa barang yang saya perlukan. Tetapi ternyata saya salah naik trem dan ujungnya 'terpeleset' ke satu taman yang sangat indah. Saya baru tahu, ternyata tersesat sedikit di kota ini bisa mendapatkan penyegaran, seperti menemukan oasis di tengah gurun.

1. Fitzroy Garden

Daun berguguran di Fitzroy Gardens

Karena saya hanya seorang diri dan enggak punya tujuan yang jelas, akhirnya saya memutuskan untuk mengelilingi taman sambil mengambil beberapa foto untuk dibawa pulang. Saya enggak nyangka, ternyata tamannya sangat luas. Taman ini bernama Fitzroy Gardens. Meskipun lama-lama saya merasa lelah, tetapi langkah kaki saya terus bertambah. 

Cuaca yang mendukung ditambah semilir angin segar membuat saya terlena dalam pelukan dedaunan yang mulai berguguran. Musim gugur ternyata sudah menampakkan batang hidungnya. Saya pun sangat bersemangat. Ini pengalaman pertama saya bertemu musim gugur.

Melbourne Says "Hi!" to You ♥

Hai kamu yang ada di sana! Selamat datang di kota Melbourne!

Tak terasa ternyata sudah jalan delapan bulan saya tinggal di negeri kangguru dan koala ini. Mungkin kesempatan yang sedang saya jalani belum begitu lama jika dibandingkan dengan orang lain. Pada hari-hari kerja, saya tinggal di Geelong. Tetapi pada akhir minggu, jiwa dan raga saya selalu ingin berada di ibu kota Victoria ini. Sehingga saya pun merasa menjadi salah satu bagian dari Melbourne dan terikat dengannya. Tak pernah sebelumnya terbayangkan, saya akan berada di sini. Di kota yang baru-baru ini kembali mendapat predikat The Most Livable City in The World untuk yang kelima kalinya. Kota yang berjarak kurang lebih 5000 kilometer dari tanah kelahiran saya, Bandung. 

[REVIEW] ELF Studio Matte Lip Color - Neutral Shade

Going a little bit soft? Why not!

ELF Studio Matte Lip Color - Neutral

Sebagai orang yang ceria dan pecinta warna-warna ngejreng, saya merasa gagal karena setiap kali berkaitan dengan lipstik saya selalu pilih warna-warna yang agak lembut dan enggak terlalu menonjol. Termasuk yang satu ini, e.l.f. Studio Matte Lip Color dengan warna netral. 

Pertama kali pakai saya langsung suka sama warnanya. Persis warna bibir yang saya pengen dari dulu. Apalagi dengan tampilannya yang matte, jadi enggak berasa kayak makan gorengan (saya pribadi enggak terlalu suka yang glossy, kilapnya jadi kayak berminyak hehe). 


Warnanya natural.

Cuma sayangnya kalau dari jauh dilihat, saya jadi kayak pucat gitu. Kayaknya sih pengaruh warna kulit dan sinar matahari. Padahal liat foto di internet kayaknya bagus gitu.. Enggak pucat-pucat amat :( Pelajaran banget nih, yang dipakai orang lain bisa nampak bagus.. belum tentu bagus buat kita.

Well, terlepas dari pucat atau enggaknya, saya tetap suka produk yang satu ini. Selain harganya terjangkau juga bentuknya yang retractable bikin kita enggak perlu menyerut kayak pensil bibir lainnya. Aplikator lipstiknya juga gampang dipakai, cuma harus agak hati-hati karena kalau terlalu semangat nanti lipstiknya rentan copot dari aplikatornya -_- (saya ngalamin nih,, agak bete). Tapi enggak apa-apa, kalau copot bisa dibalikin lagi ke tempatnya kok :))

I love this colour!
Pros:
  1. Harganya terjangkau untuk ukuran produk internasional.
  2. Warnanya sama kayak warna yang ada di bungkus produk.
  3. Pemakaiannya cukup mudah karena bentuknya yang retractable.
  4. Cukup lembab, walaupun enggak seharian.
Cons:
  1. Cepat hilang (kalau banyak makan :D).
  2. Harus beberapa kali oles sampai warna yang kita inginkan terasa pas.
  3. Meskipun matte, tapi pas dipakai enggak terlalu matte. 
  4. Warna cenderung lebih pucat saat dipakai dan terkena sinar matahari.

Pros cons sama-sama ada empat.. Jadi bukan berarti sangat direkomendasikan atau pun enggak direkomendasikan. Direkomendasikannya biasa aja :D tapi kalau dilihat-lihat sih kayaknya produk ini bakalan awet dipakai dibandingkan produk yang lain. Mudah-mudahan aja :D

Kiss,
-P 

[TIPS] Homesick dan Cara Mengatasinya


Because home is where your heart is..
Siapa sih yang gak sedih kalau jauh dari keluarga tersayang dan orang-orang terdekat? Saya yakin bener deh.. semua orang pasti ngerasa kayak gitu. Kecuali keluarganya jahat atau gak ada orang-orang yang terasa dekat di hati. Kalau rasa sedih ini muncul, bawaannya galau dan gak karuan. Penyebabnya sih biasanya gara-gara kangen tapi gak tersalurkan. Gak bisa ketemu, gak bisa komunikasi, atau mungkin bisa komunikasi tapi gengsi :)) 

[REVIEW] e.l.f. Cosmetics (Eyes Lips Face) - Kosmetik Terjangkau dari New York

Kesayangan baru :')

Dari sekian banyak produk kecantikan yang lagi booming saat ini, e.l.f Cosmetics alias Eyes Lips Face jadi salah satu yang saya tunggu-tunggu.. malah dari tahun kemarin nunggunya. Meskipun sudah ada distributornya di Indonesia, tapi baru sempat coba pas sudah tinggal di Aussie. Dari segi harga, kalau dibandingkan produk Indonesia di pasaran memang agak mahal sedikit, tapi kalau dibandingkan dengan produk luar sih e.l.f cukup terjangkau dan kualitasnya juga lumayan bagus. 

Waktu di Indonesia, e.l.f  cuma bisa dibeli online, soalnya belum ada toko resminya. Kirain di Aussie bakalan bisa lebih gampang beli langsung di toko.. ternyata enggak juga. Coba cari di drugstore ternyata enggak ada, dan di supermarket pun hanya ada di supermarket tertentu dengan lokasi tertentu juga. Di sini saya baru nemu di Kmart Ringwood. Katanya sih di Target ada, tapi belum nemu sama sekali di Target Melbourne & Geelong. Begitu pula dengan beberapa beauty store, katanya ada tapi lokasinya jauh :| Ya ujung-ujungnya lebih gampang beli online dari website-nya langsung. Meskipun enggak bisa coba testernya, tetapi kadang-kadang di website-nya, e.l.f suka mendadak diskon bahkan sampai 50% dan juga gratis pengiriman dengan total pembelanjaan tertentu. Tapi ya mendadak diskonnya cuma sebentar dan berakhir dengan cepat. Akhirnya untung-tuntungan aja. Kalau memang perlu banget jadi harus beli di Kmart deh :| jauh.

Akhirnya pada tanggal 22 Juni saya memutuskan untuk mencoba memesan online di elfcosmetics.com.au  dan setelah menunggu kurang lebih dua minggu... pesanan pun datang! 

Paket besar ELF pun datang!

Paket dari ELF dibungkus dengan aman.

Pas pertama lihat paketnya, wah ternyata gede banget! Dan yang lebih bikin bahagia lagi, paketannya sangat rapi, aman, dan profesional. Enggak ada satu pun produk yang saya pesan rusak. Saya baru sadar ternyata saya agak impulsif :( Tapi dari awal masukin produk-produk ini ke keranjang belanja, saya udah niat untuk menahan diri memakainya sekaligus. Ya... hitung-hitung sebagai investasi di masa depan biar enggak usah beli-beli lagi *I wish!*

Produk-produk yang saya pesan termasuk e.l.f Studio, e.l.f Minerals dan e.l.f Essentials. Tiga jenis produk ini berbeda dalam hal:
  1. e.l.f Studio - katanya sih cocok banget buat profesional make up artist atau pun konsumen yang lebih ingin 'profesional'. Lebih vegan friendly.
  2. e.l.f Minerals - produknya khusus yang terbuat dari natural minerals
  3. e.l.f Essentials - produk make up yang cocok untuk dipakai setiap hari karena harganya lebih terjangkau dan konsumen bisa memodifikasi pallette yang mereka punya.

Yang saya suka pastinya produk dari jenis ketiga, soalnya emang lebih terjangkau. Tapi kalau ngomongin kualitas sih mungkin yang studio yang lebih bagus ya. Tapi enggak apa-apa, mau yang mana pun, semua produk dari e.l.f. ini katanya 100% no animal cruelty dan ikut kampanye no fur dari PETA. Pantes aja meskipun masih tergolong brand baru, produk e.l.f. udah menyebar sampai 17 negara.. atau mungkin lebih. 

Saya berani beli online karena sebelumnya udah coba beberapa produknya dengan beli langsung di supermarket. Eh enggak nyangka.. ternyata cocok. Makanya jadi penasaran coba jenis yang lainnya :D

Ada yang udah pernah coba e.l.f. juga? Inget ya, e.l.f. cosmetics, bukan ELF fans dari Super Junior xD

Kiss,
-P 

[TIPS] Jalan-jalan ke Gunung Bersalju


Untuk mengunjungi tempat bersalju, apalagi jika belum pernah sebelumnya, sudah pasti kita harus memperhatikan beberapa hal penting. Nah, di tulisan kali ini saya akan memberi tahu beberapa hal penting yang bisa kamu masukkan ke dalam catatan persiapan perjalanan. Jadi, apa saja hal-hal penting tersebut?

PERINGATAN hal-hal yang dianggap penting oleh penulis belum tentu dianggap penting oleh orang lain. Jangan kecewa, protes, marah, apalagi murka :))

[Diary] Winter Wonderland

Sewaktu saya masih kecil, saya sering bermimpi dan berkhayal untuk bisa melihat salju secara langsung. Sebagai orang yang tinggal di negara tropis, pastinya melihat salju adalah salah satu bagian dari bucket list  yang nampaknya gak murah.  Sudah tertanam di benak saya bahwa saya harus menabung dan  mencari cara tanpa harus meminta kepada orang tua. Diam-diam, ternyata Tuhan mengabulkan permintaan saya tanpa  harus saya teriakkan. Dan syukurlah, pada tanggal 3 Juli tahun 2015, keinginan saya terwujud.

Gadis lugu di tengah pepohonan bersalju :D

VLOG - Where I work

Athletics Day at John Landy Athletics Field!

Setelah kemarin pegal-pegal karena tepar keliling Moomba Festival di Melbourne seharian, akhirnya hari ini saya kembali ke sekolah. Ternyata hari ini tidak ada pembelajaran di kelas karena ada Athletic Day! Yay! All class dismissed!

Untungnya kemarin saya udah dikasih tau koordinator saya, Mbak Aphra, untuk pakai pakaian olahraga. Pas tadi pagi ke sekolah, buset.. seru banget! Saya liat banyak murid yang memakai kostum tidak seperti biasanya. Mereka lebih ekspresif dan mukanya lebih ceria. Semua guru-guru juga sama, lebih sporty dan santai.


Funny Costume at Athletic Day!

Culture Shock: Cium Pipi atau Cium Bibir

Di sore hari Minggu yang santai ini, saya dan host fam saya sudah menyiapkan alat makan dan meja untuk makan malam di halaman belakang. Saat lagi ngobrol seru dan nunjukkin foto-foto keluarga saya, tiba-tiba mereka ngasih tahu kalau mereka bakalan ke rumah temannya dan saya pun diajak. Wah, agak bingung nih. Bingung kalau nanti mereka ngobrol tapi saya enggak ngerti :)) 

Tapi karena saya enggak gampang menyerah dan enggak mau kalah dengan rasa bingung saya, pastinya saya pun terima tawaran itu. Alasan lain ya karena proses ini adalah salah satu dari proses adaptasi yang saya jalani di sini. Kalau saya menghindar terus nanti saya bakalan susah dong adaptasinya? Oke. Akhirnya saya capcus buat ikut host fam saya mengunjungi temannya.

Di perjalanan, host fam saya mampir ke minimarket untuk membeli minuman segar. Nantinya minuman itu akan diberikan dan dinikmati bersama saat ngobrol-ngobrol cantik. Selain itu, host fam saya juga membawa cemilan dan telur untuk diberikan kepada tuan rumah. 

Rumah teman dari host fam saya tidak terlalu jauh. Ya.. kira-kira hanya beberapa blok dari tempat tinggal kami (((KAMI))).  Rumahnya bagus dan nyaman. Meskipun tidak bertingkat, terdapat halaman depan dan halaman belakang yang luas tipikal rumah khas Australia. Tambah kaget lagi karena ada kolam renangnya. Wah pasti betah banget tinggal di sini. Asik banget soalnya!

Ada hal lain yang bikin kaget.. pas host fam saya betemu teman dan suaminya, mereka cium bibir!

Makan Apa? Makan Apa? Makan Apa Sekarang?

Memasak sudah menjadi bagian dari hobi yang enggak bisa saya tinggalkan. Saya suka banget masak dengan catatan: ada bahan-bahannya. Selain itu ada catatan lain: enggak perlu pakai resep alias suka-suka aja. Kalau orang tua bilang mungkin agak pemalesan, kalau saya bilang sih menguji kreatifitas *halah *ngeles*. 

Setelah hampir dua minggu tinggal di benua lain dan kebanyakan hanya mengandalkan roti dan goreng telur biar gampang, akhirnya di akhir minggu ini saya bisa bikin sesuatu yang lebih nyaman di lidah dan menyelamatkan rasa-rasa yang kemarin sempat hilang. Salah satu cara biar gak enek makan roti terus, saya selalu taburi bon cabe di makanan saya.  Thanks God, saya bisa makan dengan nikmat. Ada yang kurang sih sebenarnya... Royco. *sumpah ini gak dibayar*.

Karena host family saya tidak ada di rumah (mereka harus bekerja dan bermain golf), jadinya saya diperkenankan buat bikin makanan buat saya sendiri. Sempet kepikiran buat bikin sesuatu yang ada telurnya tapi telur lagi habis, jadinya saya pengen bikin sesuatu yang manis. Meskipun tiap hari makan roti, entah kenapa saya tetep makan roti pagi ini. Udah mulai terbiasa kayaknya. Lama-lama saya yakin bahasa Inggris saya bakalan makin lancar karena makan roti.

Akhirnya, roti primadona pilihan pun saya masukkan ke dalam toaster dan setelah itu saya susun. Enggak lupa saya oleskan butter dan selai strawberry. Untuk menambah rasa creamy, saya tambahkan es krim vanilla. Gak susah kan? Tinggal kasih blackberry dan strawberry jadi deh. Sarapan pun terasa mewah. Jangan lupa siapkan susu kedelai dan energen biar makin sehat.

"Energen? Emang ada Pi di sana? "

Ada coy.

Ini dia penampakannya.

All my bags are packed I'm ready to go...

Semalam saya enggak bisa tidur nyenyak. Meskipun udah packing dari seminggu sebelumnya dan merasa udah siap berangkat, tetep aja saya bongkar lagi packingannya dan barter barang yang perlu atau tidak perlu dibawa. Sekejap saya sadar, saya stress. Takut ada yang kurang, takut bawa yang enggak penting, dan takut-takut lainnya. Lama-lama jadi pusing tapi akhirnya tidur juga. 

Tanggal 1 Februari akhirnya datang. Saya bangun subuh dan menyiapkan segala sesuatu agar jangan sampai ada yang ketinggalan meskipun dilanda kebingungan. Saya bingung menyebut hari ini sebagai hari apa. Apakah hari yang dinanti atau hari yang cepat-cepat ingin dilewati. Yang pasti, perasaan saya enggak karuan. Saya senang akhirnya saya bisa menjalankan salah satu bucket list di hidup saya, tetapi di sisi lain saya pun tetap merasakan sedih, takut, bingung dan pasrah. Beragam perasaan itu saya coba tutupi agar jangan sampai keluarga dan orang terdekat tahu bahwa saya pun merasakan kekhawatiran yang mereka rasakan. Cukuplah mereka tahu bahwa saya kepalang bahagia dan excited.

Selain keluarga inti, ternyata keluarga saya yang lain pun banyak yang ingin mengantar--termasuk keluarga pacar. Saya enggak memungkiri kalau saya seneng banget, meskipun saya ngerasa enggak perlu dianter sama banyak orang karena nanti kasian mereka kecapean, toh saya akan berada di mobil yang berbeda. Tapi saya bersyukur mereka masih perhatian sama saya dan akhinya pasrah buat diantar :')


All my bags are packed I'm ready to go...
Saat masukin koper dan tas ke bagasi, saya pengen nangis. Seriusan nih saya mampu jauh dari orang-orang yang saya cintai selama satu tahun penuh? Emang sih dari awal kuliah saya udah latihan untuk jauh dari keluarga.. tapi saat akhir pekan saya masih menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga. Nah kali ini saya belum tau jawabannya apakah saya mampu atau tidak. Yang pasti saya harus berkuat diri *mewek*.

Sebenenya sedih banget pas foto bareng keluarga, gak pernah lengkap :') Maaf mah enggak sempet foto pake toga bareng sekeluarga. Nanti pas Pia pulang aja ya...

Kedua kalinya foto bareng Akang.. akur :D

Akang, Teteh, dan keponakan jagoanku <3
Selfie Sukaesih pake kerudung dari @yuliahaji <3
Siapa lagi kalau bukan...

Setelah foto-foto bareng keluarga, saya pun langsung berangkat. Perkiraan perjalanan yang akan memakan waktu 2 jam pupus sudah, ternyata cepet banget di jalan. Enggak sampai satu jam. Mungkin karena hari Minggu dan lewat tol ya. Sampai di kampus udah ada Tiara (alias Hime) dan ibunya. Ternyata kampus sepi banget.. belum ada siapa-siapa. Kami kepagian :)) Tapi setelah menunggu sampai jam 11, akhirnya semua berkumpul termasuk Robita (alias Obit) dan keluarganya.

Detik-detik pelepasan tiga dara
Saat pelepasan tiga Indonesian Language Assistants
Di pelepasan ini, pihak kampus menjelaskan kepada keluarga mengenai tugas kami. Kami bertiga terpilih dari para pelamar yang merupakan alumni dari jurusan pendidikan yang ada di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI untuk menjadi guru bantu bahasa Indonesia di Victoria, Australia. Guru bantu ini dikenal dengan istilah Indonesian Language Assistant. 

Language Assistant sendiri bukanlah merupakan guru yang bertindak sendirian dalam proses pengajaran bahasa Indonesia di tiap kelasnya. Sesuai namanya, kami akan mendampingi dan membantu guru bahasa Indonesia yang bertugas di sana untuk sinkronisasi pengajaran bahasa Indonesia. Baik itu dari tata bahasanya, budayanya, atau pun yang lainnya. Kalau biasanya kita belajar bahasa Inggris suka ada bule sebagai native speaker, nah ini giliran saya dan teman-teman yang jadi "bule" di sana. 

Pihak kampus menyampaikan bahwa keluarga tidak perlu khawatir dengan tiga dara ini. Karena program ini sudah menjadi tanggung jawab Department of Education and Training VIC Australia dan kelangsungan hidup kami akan terjamin. Alhamdulillah dengan mendengar itu langsung dari dosen yang menyeleksi saya, orang tua saya pun bisa lebih tenang dan percaya dengan apa yang saya sampaikan. 

Proses persiapan yang kami alami ini tidak mudah. Kurang lebih berlangsung sejak akhir Juli tahun 2014. Mulai dari deg-deg-an seleksi sampai beli tiket pesawat pun kami jalani sendiri. Maklum kami belum pernah ke luar negeri jadi agak rempong waktu persiapan. Karena visanya ditungguin banget, jadi berasa lama deh :))

Overall, acara pelepasan di kampus berjalan lancar meskipun ada momen haru di saat dosen saya mempersilakan orang tua untuk memberikan sepatah dua patah kata. Bapak saya yang berada di samping Pak Sri Harto pun mengeluarkan suara dengan tersedu. Enggak kerasa air mata saya ikut menetes.. karena itu pertama kalinya saya lihat bapak saya meneteskan air mata. Bahkan saat ibu dari bapak saya meninggal pun, saya tidak melihat bapak saya menangis. Mungkin bapak mencoba tegar untuk menguatkan adik-adiknya. Tapi saat saya mau pergi ke benua sebelah, ternyata air mata beliau turun juga. Semoga air mata itu adalah air mata kebanggaan. 

Foto bersama keluarga dan pihak kampus
Habis acara pelepasan yang pasti enggak lupa buat foto-foto. Asli nih, dipaksa sama pihak kampus buat dokumentasi (Padahal ya emang seneng juga sih foto-foto)!

Terima kasih Pak Sri Harto atas bimbingan dan kesempatannya

Family and friends..

Winda, sepupu yang lagi sibuk ini masih nyempetin datang :*
  
Thanks a lot my lovely sisters, dateng jauh-jauh dari Cianjur


Of course, thank you so much my crazy bestfriends for being there.

Moncicis, I love you so much!

3 Generasi: Mamah - Umi - Zaskia Mecca

Keponakan jagoan tersayang!

Two best men in my life
Setelah beres acara sedih-sedihan di kampus, saya, Hime dan Obit masuk ke mobil kampus ditemani supir dan salah satu staf kampus. Sementara itu keluarga kami masing-masing ada di mobil mengikuti kami. Sayang sekali kakak saya enggak bisa ikut ke bandara. Tapi kalau ikut juga kasian nanti krucil kecapean di jalan. 

Di tengah perjalanan saat berhenti di rest area, kami pun masih menyempatkan diri bertemu dengan keluarga masing-masing. Entah kenapa saya ngerasa bercanda, masih belum kerasa mau pergi jauh. Rasanya hati ini kosong dan euforia yang sebelumnya mengendap, sekarang menghilang. Saya enggak tau kenapa. Saya cuma bisa bismillah aja sambil terus berdoa.

Sesampainya di bandara, kami disambut hujan besar. Doa kami semakin kencang karena kami ada perasaan was-was melakukan penerbangan saat cuaca seperti ini. Tapi kami serahkan pada Yang Maha Kuasa. Semua dah ada yang menentukan, kan?

Hujan di bandara

Finally, I'm here. My third flight.
Karena perjalanan yang cukup lancar, akhirnya kami harus menunggu agak lama di bandara. Alhamdulillah masih ada waktu untuk berkumpul bersama meskipun sebenarnya saya bingung harus bagaimana. Sempet ketemu Rindra si pegawai Garuda yang ngebela-belain datang ke Gate 3 buat ketemu saya dan Hime sebelum berangkat. Udah gitu ngasih suvenir Garuda pula! Makasih banyak Rindra! 


Bahkan keluarga dari Bekasi pun datang buat perpisahan sama saya. Terharu :')

Dan.. ada Rindra! Pegawai maskapai yang kita naikin nih!
Pengennya lagi nunggu gini sih ya ceria dan ngajak ngobrol satu-satu. Tapi saya takut bakalan nangis. Saya tahan dulu aja. Memasuki waktu mau check in, saya solat dulu bareng mamah. Akhirnya air mata yang ditahan dari siang pecah juga pas salim sama mamah habis solat. Sempet dihapus dulu pas jalan mau ke tempat ngumpul.. Eh.. ternyata... pas waktunya check in nangis lagi juga. 

Pamitan kali ini merupakan pamitan yang paling berat saya alami. Mungkin orang lain bilang, "Ah lebay amat... setahun juga balik lagi." Tapi entah kenapa saya enggak bisa sesantai itu. Duh gak kuat kalau nyeritain bagian yang ini. Skip aja kayaknya :')

Setelah puas pamitan dan menangis, akhirnya saya dan dua dara lainnya check in lagi (check in yang pertama sejam yang lalu buat simpen bagasi doang). Setelah itu antri ke bagian imigrasi dan santai di waiting room karena belum boarding. 

Waiting.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Ini tanda kami harus menuju boarding gate. Sempet deg-degan pas diperiksa walaupun enggak bawa yang macem-macem, meskipun pada akhirnya enggak kenapa-napa juga. Akhirnya kami bisa lebih rileks dan ketawa-ketiwi di boarding room.

Padahal udah ngantuk abis.

Bismillah...

Jantung pun berdegup cepat. Sebentar lagi kami berangkat.. semoga selamat sampai tujuan. Aamiin.


Kiss,
- P

Instagram Snaps

www.piazakiyah.com. Powered by Blogger.